Bincang Keluarga Catatan Teman

tidak perlu…

terus berbuat...

terus berbuat…

Ketika kita dihadapkan pada kebiasan-kebiasan yang lazim dihadapan kita, dan kita ikuti dan taat apa yang menjadi kebiasaan tersebut, karena hal tersebut adalah hal-hal yang lazim, menjadi kebiasan turun menurun, apakah kebiasan tersebut sesuai dengan aturan-aturan yang hak, mungkin ada yang berpendapat,  ngapain mesti pusing sudah ikuti saja yang ada, sederhana kan… wuih tidak seperti itu juga, jika kebiasaan yang telah ada tersebut, ternyata bertentangan dengan aturan-aturan yang dari sumber yang benar bagaimana, apakah kita telah tahu ada kebenaran dan ternyata berbeda dengan kebiasaan yang kita lakukan bagaimana…? kita tetap dengan kebiasaan yang lazim tersebut, walau tahu hal tersebut adalah salah. Atau kita meninggalkan kebiasaan yang lazim tersebut karena kita punya keyakinan dari sumber-sumber yang benar bahwa kelaziman tersebut tidak bersandar kepada kebenaran, dan akhirnya dengan sikap tersebut kita diasingkan oleh komunitas kelaziman, karena kita “berbeda” , berani ambil sikap atau cukup puas dengan keadaan yang membawa kita pada keadaan kita saat ini…?

Apa sebaiknya kita lakukan…? menjadi berbeda, mengikuti aturan-aturan yang hak dari sumber-sumber telah terbukti kebenaran hingga akhir zaman, semakin ditutupi kebenarannya semakin nyata kebohongan demi kebohongan yang menutupi kebenaran,  atau yang paling mungkin, membuat sebuah ajaran baru lengkap dengan atribut-atribut untuk mencari pengikut, hmm saat ini banyak juga saya lihat, merasa diri mendapatkan ilham atau apapun wujudnya mereka memiliki keyakinannya masing-masing dan ini sudah terjadi bukan.
Saya coba mengambil pengalaman seorang teman, beliau bukan orang yang berada secara materi, hidup ada apanya saja, harta pun tak punya, tapi semangat untuk belajarnya ini yang selalu buat saya salut, dia seperti gelas yang selalu kosong dengan ilmu-ilmu, dia selalu haus dengan ilmu, dulu dia punya prasangka, aku takut kalau belajar, semakin aku tau, semakin banyak yang harus aku amalkan, aku takut apa-apa yang telah aku ketahui tidak aku amalkan, keinginan ku satu pelajaran satu perbuatan, tapi ada sebuah keyakinan yang membekas jauh kedalam sanubarinya, belajarlah, dan minta pertolongan ALLAH agar diri diberi kekuatan untuk mengamalkan semua yang dipelajari, jalan yang panjang, jalan yang berliku, bukan berarti tidak bisa dilalui, namun butuh keahlian untuk melewatinya, keahlian itu kita dapat dari satu pelajaran ke pelajaran berikutnya,  satu pengalaman ke pengalaman berikutnya beliau terus mencari hingga dia meyakini, aku akan terus belajar hingga ajal ini hadir, hingga tubuh ini kembali ketanah dan semua amalan telah ditutup, dan keyakinan yang dimilikinya selalu beiringan dengan rasa takut yang mendalam, hanya dia yang tahu wujud rasa takut yang dia miliki, namun dalam setiap kegiatannya dia menguatkan tiga hal, yaitu Cinta, Pengharapan serta Takut, suatu saat aku ingin diskusi santai dengan beliau soal tigal hal ini, Cinta, Pengharapan dan rasa takut.
Bisa saja orang lain mengatakan apa yang dijalaninya adalah hal yang yang tidak lazim, bahkan mungkin mengada-ada, karena tindakan yang dilakukannya berbeda dari kebiasaan yang telah ada. Silahkan saja, kita mempunyai kehendak yang sangat bebas menjalani apa-apa yang menjadi keyakinan kita. Yang pasti terlihat diri ini memiliki manfaat dimana dia berada, menjalankan amanah sesuai dengan tuntunan yang benar, bahasa tenarnya, aku nyaman untuk lingkunganku, terus belajar dan mohon kepada Tuhan pencipta langit, bumi beserta seluruh isinya agar terus di bimbing hingga akhir hayat, belajarlah dengan sumber-sumber yang benar, belajarlah dengan memohon bimbingan, belajar dan amalkan, orang lain, lingkungan atau bahkan saudara sendiri berkata tidak layak atas sikap yang kita jalani, tidak perlu diajak berdebat, tunjuki sikap terbaik kita, tunjukan diri memiliki manfaat.
Tidak perlu memaksakan kehendak yang kita yakini, sampaikan dengan teladan dan perkataan yang baik,  yakini diri, apakah aku sudah bermanfaat…? tidak perlu jauh-jauh keseluruh pelosok negeri, mulai dari yang paling dekat, apakah aku sudah bermanfaat bagi istriku, anak-anakku, orang tuaku, sanak saudaraku, mulailah dari yang terdekat.

#CatatanTeman #05062015

2 Comments

  • July 2, 2015 - 19:46 | Permalink

    Perbaiki dahulu diri kita..mulai dari diri kita… teruslah instropeksi diri untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Powered by: Wordpress