Catatan Teman

Rezeki…? Tidak tertukar 

 

Rezeki ? tidak tertukar

Mas An, hari ini ada acara kemana…?
hari ini, menemani guru seharian mungkin sampai ashar dek, kenapa…?
iya mas, berarti anak-anak kita titipkan lagi ya…? hari ini adek juga ada pertemuan dengan kelompok masak, untuk persiapan pesanan kue kering mungkin seharian juga mas…
hmmm, mudah-mudahan anak-anak gak protes ya dek…

sekelumit obrolan pagi, jelang beraktivitas, mungkin kebanyakan orang tua di kota-kota besar sudah biasa menitipkan buah hatinya, baik lewat media sekolah, taman bermain, penitipan anak-anak bahkan mungkin yang paling sering kita temui menitipkan kepada orang tua kita, yang seharusnya orang tuanya yang menjaga penuh anak-anaknya bukan kakek dan neneknya, namun karena desakan ekonomi, orang tua harus bekerja, meninggalkan rumah, meninggalkan buah hati, demi membiayai kehidupan yang semakin hari semakin tidak ramah dengan penghasilan satu kantong, ayah dan ibu bekerja demi buah hati dan menghidupi keluarga.

ooouf, jadi anak-anak kau titip lagi An, iya pak, doain pak mudah-mudahan kami berdua ketemu cara yang paling baik, sabar ya An, ente pasti pahamlah An, soal cobaan. yup pak, ane paham pak, namun orang-orang yang disekeliling ane yang mungkin tidak paham, mereka mungkin hanya melihat kulit terluar saja, mereka tidak paham isi dibalik kulit tersebut, banyak balutan-balutan prasangka, kadang-kadang itu yang buat saya terdiam, bukan cobaan itu sendiri pak, namun itulah prasangka-prasangka yang sebenarnya tidak perlu ada, tapi godaan punya prasangka itu yang buat ane terdiam pak… Sabar ya An, cobaan tidak pernah salah alamat, tinggal usaha kita, bagaimana melewati ujian demi ujian, jangan diam, terus bergerak terus berusaha.

“…jadi misalnya saya diberikan setoples penuh kue nastar dihadapan saya, dan saya hanya melihat dan berujar, kue nastar ini rezeki buat gue..terus berulang ulang, namun tidak ada “usaha” menggerakkan tangan saya meraih kue nastar tersebut, usaha memasukan kue nastar tersebut masuk kedalam mulut saya, serta “usaha” saya mengunyah sebaik-baiknya sehingga bisa masuk kedalam perut dengan baik, lihat ada berapa usaha yang harus saya lakukan untuk menikmati kue nastar ini, hingga nastar tersebut menjadi rezeki buat saya, ingat rezeki itu memang tidak akan tertukar namun ada “usaha” dari diri kita sendiri untuk membuat itu menjadi nyata menjadi rezeki itu milik kita, ingat ada usaha, tidak bisa tanpa usaha harus ada usaha…”

pak, apa yang dibilang guru tadi kenak kali diaku pak…?
yang bagian mananya An…?
yang bagian makan kue nastar itu pak… soal usaha itu pak, harus ada usaha dari kita, walau sudah terlihat itu adalah rezeki kita, dari penglihatan kita, harus terus ada usaha dari diri kita sendiri untuk membuat bahwa inilah yang menjadi rezeki kita.
iya An, antum sabar ya, terus berusaha, terus bergerak terus berusaha, pasti ada waktunya buat antum An, terserah ALLAH kapan mau diberikan, apakah kita sudah layak, apakah kita sudah sanggup, apakah memang sudah waktunya, biarkan itu diranah ALLAH, kita terus bergerak, berusaha yang terbaik dengan apa yang kita miliki, kalau saya pakai analogi nastar tadi, rezeki itu sudah ada dihadapan kita tinggal bagaimana “usaha” kita meraihnya.
siap pak, habis ini kita kemana lagi pak…?

#CatatanTeman #16062015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress