Bincang Sahabat

namanya juga Haters…

namanya juga haters

namanya juga haters

Namanya juga haters un, mereka-mereka orang-orang yang berdedikasi tinggi untuk membenci sesuatu, apapun yang uni lakukan dimata para haters itu tidak ada kebenaran sedikitpun, walapun jutaan kebaikan baik yang terliput ataupun tidak, mereka tidak melihat itu, walapun jutaan manfaat yang diusahakan mereka tidak melihat itu, jutaan kebaikan bahkan banyak manfaat yang tak terhitung itu tak mampu dicerna oleh haters, mereka luput meliput kebaikan, namun sangat jeli dengan kesalahan, apapun kesalahan yang dilakukan baik yang disengaja atau kesalahan itu bukan dari kita, mereka tidak akan tabayyun, mereka tidak akan konfirmasi mengenai hal ini, seharian atau bahkan setiap tindakan yang dilakukan, mereka ini seperti punya kamera yang mendeteksi khusus terhadap satu kesalahan saja, mereka tidak perlu melihat banyak kesalahan, cukup satu kesalahan dan itu akan menjadi pembenaran bagi mereka untuk membenci perbuatan kita, seakan-akan ragam kebaikan yang telah dilakukan lenyap tak berbekas, mata mereka tak merekam kebaikan, mereka melotot tanpa henti, menanti penuh kesabaran, untuk satu kesalahan saja, dan mereka akan melahap itu, dengan kekuatan penuh.
Saya pribadi mengenal uni awal tahun 2009, dikenalkan oleh teman saya, untuk hadir dalam acara Minang Berbagi, walaupun saya bukan murni orang minang, namun saya dibesarkan dengan kebiasaan-kebiasaan Minang, mungkin karena orang tua saya tinggal di perbatasan antara Sumbar dan Sumut. Pada acara tersebut saya bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Minang yang ada di ibukota, ada Uda Fuadi yang saat itu terkenal dengan novel Lima menara, ada Uda Rony dikenal lewat Tangan diatas, ada juga teman-teman lain yang saya kenal lewat media lainnya, saat itu saya sama sekali tidak mengenal siapa itu Fahira idris, sampai teman saya meyakinkan, itu loh anaknya Fahmi Idris, barulah saya paham siapa beliau, dan pada saat itu saya juga sudah mempunyai twitter namun jarang saya gunakan untuk berkomunikasi di ranah online, karena belum mengerti manfaatnya.
Setelah perkenalan itu saya masih biasa saja, tidak ada yang istimewa pada hari itu, bertemu dengan tokoh masyarakat, berbagi no telp, berbagi cerita, pulang dan tidak mendapatkan kesan apapun juga, selain menambah teman. Perlahan-lahan dari situ saya coba-coba mengingat ingat apa pasword twitter saya dan pada saat itu saya langsung disapa dan di follow oleh uni Fahira, semenjak itu saya agak mengikuti berita-berita yang tersebar lewat media twitter hingga perkenalan berlanjut pada saat pembentukan GeNAM, Gerakan Nasional Anti Miras, dikomunitas inilah saya intens bertemu dengan beliau, baik lewat twitter dan bertemu langsung, banyak sekali kiprah beliau dalam kegiatan sosial, mungkin kalau saya jabarkan satu persatu dengan detail, tulisan ini bisa tidak selesai pagi ini, mulai dari kegiatan sosial yang terliput media dan kegiatan sosial yang tidak terliput oleh media, jika mungkin, saya ingin ikut menemani aktivitas sosial beliau dari mulai pagi hingga tuntas, namun itu belum bisa dilakukan karena masing-masing kita punya kesibukan.
Apa yang saya bisa simpulkan setelah pertemuan demi pertemuan tersebut, dari satu diskusi ke diskusi berikutnya, dari awal saya hanya punya kesan biasa-biasa saja, hingga sampai ke pendapat uni orang baik, kesan ini saya dapatkan ketika berulang kali bertatap muka dan berbicara dengan beliau, antara yang dibicarakan dengan kegiatan yang uni lakukan sejalan, jadi bukan bicara manis-manis tidak ada yang dilakukan, bukan hanya jago berorasi lewat twitter saja, uni tunjukan dengan kegiatan dilapangan. Apa yang dibicarakan sudah dilakukan uni dilapangan.
Walaupun begitu dari sekian banyak perbuatan kebaikan penuh manfaat dari uni, ada saja manusia manusia yang tidak suka dengan apa-apa yang dilakukan uni, saya pikir wajar-wajar saja, mereka menghujat perbuatan uni, bahkan hal-hal yang tak pantas di ucapkan di ucapkan oleh para pembenci uni tersebut, sepertinya mereka 24 jam bersama uni, sehingga bisa paham betul apa yang dilakukan uni, tanpa perlu mendatangi atau berbicara langsung dengan uni, orang-orang dengan sangat entengnya mengatakan unipu, uni lebay, fahiraiblis lah dan beragam kosa kata yang tak pantas, disini saya bukan dalam posisi memuji muji uni, namun saya berusaha memaparkan apa yang saya lihat lewat media sosial dan apa yang beliau lakukan ternyata sejalan, tidak kurang tidak lebih, jadi usul saja, bagi teman-teman yang tidak sepaham atau bahkan benci, sangat-sangat benci dengan uni, ya mbok tabayyun dengan uni terdahulu, cross check, uni bukan orang yang sulit ditemui kok, beliau dengan tangan terbuka menerima perbedaan, diskusi santai saja dengan beliau, yah mudah-mudahan sedikit banyak bisa mengerti mengapa uni punya gebrakan ini dan itu, tabayunlah ke uni.

@febrianeffendi #28062015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress