Bincang Keluarga Catatan Teman

aku tahu

sibuk dengan

aku tahu

Secangkir kopi tubruk sebaiknya menemani aku, laptopku ini juga seakan ingin bicara, tolong matikan agar komponen-komponen yang ada istirahat sejenak, namun ada hal yang melintas pelan dibenak, aku takut nanti terlupakan kembali isi benak yang melintas itu, jadi kutunda mematikan powernya, kembali kumainkan jari ini, menyusun kata perkata lewat tombol-tombol huruf yang semakin memudar.
aku teringat sebuah ungkapan, bagus sekali namun pada saat itu saya tidak begitu memperhatikan atau mendalami apa arti ungkapan tersebut, berapa waktu berlalu saya kembali melihat ungkapan tersebut, hmmm masih dengan ungkapan yang sama, kalimat yang sangat bagus dan penuh dengan makna, namun masih dengan perasaan yang biasa saja, hanya sebatas kagum.
ketika ada kejadian, saya selalu ambil hikmah dan mencoba selalu berfikir di akhir, siapa yang paling diuntungkan dengan kejadian yang sudah terjadi ini, kadang gampang sekali membaca teori ini dan itu, namun ketika kita dihadapkan pada sebuah realita seringkali kita lupa dengan teori-teori yang sangat baik itu, atau bahkan mungkin apa saya berfikir dengan segala prasangka yang saya miliki, aah itu kan teori, belum tentu faktanya, sering sekali berucap demikian, namun ketika kejadian ada didepan mata dan membutuhkan teori-teori, mendadak lupa dan kita ambil langkah berdasarkan keinginan sesaat saja, dan akhirnya beragam teori dan peringatan hanya sebagai angin lalu saja, benarkah demikian.
Katakanlah ketika kita sudah berupaya dengan sangat kuat, dibantu dengan beragam teori yang sangat canggih dan terkini serta ditambah pula dengan beragam pelatihan baik yang gratis maupun yang berbayar, namun tetap saja usaha yang kita rencanakan sangat baik diatas kertas, ketika berhadapan dengan kenyataan menjadi babak belur, rasanya ingin menyalahkan semuanya, namun dengan menyalahkan ternyata tidak juga akan menyelesaikan masalah, hanya membuat kita semakin yakin kita keliru mengambil langkah tersebut.
Begitu juga ketika kita melakukan amalan yang dilakukan sesuai keyakinan yang kita miliki, antara sombong, riya berpacu dengan rasa takut yang mendalam, semua cemooh dan pujian bisa berada dihadapan yang membuat kita menjadi ragu dengan amalan yang sudah kita lakukan, apakah masih perlu kulakukan amal ini, agar cibiran demi cibiran ini segera berhenti, atau tidak perlu, kita jalani saja apa yang menjadi keyakinan kita, sepanjang kita memang sanggup dan tidak merugikan siapapun.
Pernahkah merasa, ketika kita sangat lelah dengan segala kebiasaan yang kita lakukan, namun masih belum juga memberikan dampak yang kita harapkan, mencoba mencari pembenaran dari kegagalan yang satu menuju kegagalan berikutnya. namun itu juga tidak memberikan dampak yang nyata bagi usaha yang kita lakukan, gagal… itu kan anggapan yang sinis terhadap apa yang telah dilakukan, akhirnya kalimat itu didengarkan kembali ditelingaku, nyaring sekali, seakan setiap kata yang terucap menyampaikan pesan demi pesan, aku bersyukur kalimat itu masih bisa aku dengar bahkan tulisan itu diantar kehadapan wajahku, Alhamdulillah.

Aku tahu, rezekiku tak akan diambil orang lain, karenanya hatiku tenang…
Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan oleh orang lain, karenanya aku sibukkan diriku untuk beramal…
Aku tahu, ALLAH selalu melihatku, karenanya aku malu bila ALLAH mendapatiku melakukan maksiat…
Aku tahu, kematianku menantiku, karenanya kupersiapkan bekal berjumpa dengan Rabbku…
(Hasan Al Bashri)

#CatatanTeman #05062015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress